Kapten Kapal Aher Nu 02, Ridwan (56) buka suara soal kabar dugaan keterlibatan oknum anggota Direktorat Polairud Polda Maluku Utara, dalam kasus penjualan potongan Kapal Tongkang di Desa Laigoma, Kayoa, Halmahera Selatan.
Ridwan menegaskan tudingan tersebut tidak dibenarkan sebab proses pengangkutan besi yang merupakan potongan kapal tongkang tersebut menggunakan kapal Kapal Aher Nu 02.
Oknum anggota yang ditudung dengan inisial Aipda JS, selaku Ps Panit Sidik Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Maluku Utara.
“Kalau setahu saya anggota Ditpolairud Polda Maluku Utara tidak terlibat dalam pengangkutan besi di kapal saya,” jelas Ridwan kepada awak media. Jumat 16 Oktober 2026.
Ridwan menambahkan, pengangkutan besi tua dari Desa Laigoma menggunakan Kapal Aher Nu 02, dengan tujuan ke Ternate dan aktivitas tersebut sudah berlangsung tiga kali pengangkutan.
Besi tua yang diangkut dalam kapalnya itu sekali jalan mendapatkan upah sebesar Rp 38 juta dari bos yang diketahui bernama Ari.
“Pak Ari ini yang beli besi dari warga di Desa Laigoma untuk bawa ke Ternate, kebetulan saya yang diminta untuk angkut besi tersebut dengan kapal saya bawa ke Ternate,” jelasnya.
Ridwan bilang, untuk informasi yang beredar adanya keterlibatan anggota Dirpolairud Polda Maluku Utara keliru. Sebab pada saat proses pengangkutan anggota menghubungi dan menyampaikan besi tersebut bermasalah disitu aktivitas pengangkutan langsung diberhentikan.
“Jadi kebetulan saya berteman dengan anggota Polair, pas kami lakukan pengangkutan besi ke kapal saya pasang story di WhatsApp. Disitu anggota Polair melihat story saya lalu dia telepon menyampaikan kalau besi yang diangkut bermasalah, jadi bukan keterlibatan anggota. Kami pun stop pengangkutan,” tegasnya.
Bahkan Ridwan menegaskan pihaknya tidak tau menau masalah besi tersebut, namun ia hanya diminta untuk mengangkut besi tersebut untuk bawa ke Ternate.
“Saya selaku kapten kapal tidak tau masalah besi ini yang saya tau diperintahkan untuk angkut karena kami juga dibayar,” pungkasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Aipda JS menegaskan dirinya juga tidak mengetahui pasti masalah tersebut. Namun diketahui setelah pemilik besi menghubungi pimpinan akan melaporkan aktivitas pengangkutan besi di Polairud.
“Jadi kami juga belum copy setelah kami tahu pemilik besi telepon akan buat laporan di Polair dan Krimum,” ucapnya.
Dari situ dirinya bersama tim diminta pimpinan untuk turun melakukan pulbaket dan disitu dirinya mengetahui kalau yang angkut besi adalah Kapten Ridwan.
“Kami telepon memberitahukan ke kep kapal kalau besi tersebut bermasalah jadi bukan kami ikut terlibat,” pungkasnya.












