MarahaiNews, id– Dugaan keterlibatan oknum anggota DPRD Tidore Kepulauan dalam pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) B2 Umum palsu mulai mencuat. Kasus ini terungkap setelah korban mengaku gagal lolos rekrutmen kerja akibat dokumen yang dinyatakan tidak sah.
Kasus ini bermula saat korban berinisial M mengikuti pelatihan operator excavator di LPK Bina Ilmu di Kota Ternate selama tiga bulan. Setelah menyelesaikan pelatihan dan mengantongi sertifikat, M kemudian meminta bantuan kepada oknum anggota DPRD berinisial K untuk mengurus SIM B2 Umum sebagai syarat melamar kerja di perusahaan tambang nikel di Halmahera Tengah.
Namun, harapan itu pupus. Saat mengikuti proses rekrutmen, pihak HRD perusahaan menyatakan SIM yang dimilikinya tidak valid.
“SIM saya justru dinyatakan palsu oleh pihak HRD. Karena penasaran, saya dan teman coba scan barcode di SIM, tapi tidak terbaca,” ungkap M, Rabu (29/4/2026).
Untuk memastikan, M kemudian membawa SIM tersebut ke pihak kepolisian. Dari hasil pengecekan, dokumen itu diduga kuat palsu.“Saya lalu bawa ke anggota polisi dan disampaikan kalau SIM itu terindikasi palsu,” lanjutnya.
Mengetahui hal itu, M mencoba menghubungi K melalui telepon dan pesan WhatsApp. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Bahkan, menurut keterangan keluarga, K disebut tidak menunjukkan tanggung jawab atas persoalan tersebut.
“Saya sudah coba hubungi, tapi tidak tersambung. Kaka saya juga coba hubungi, tapi dia seperti lepas tangan,” katanya.
M menduga praktik ini tidak hanya menimpa dirinya. Ia mencurigai ada korban lain yang mengalami hal serupa di Maluku Utara.
“Saya yakin bukan cuma saya. Bisa jadi masih banyak yang pegang SIM dari jalur yang sama,” ujarnya.
Ia pun berencana melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian agar bisa diusut tuntas. “Saya akan laporkan supaya ini dibongkar. Jangan sampai makin banyak korban,” tegasnya.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, oknum anggota DPRD berinisial K belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan melalui telepon dan pesan singkat belum direspons.













