Oleh: Hard Pangendahen
(Sekretaris Lembaga Adat Suku Boeng & Tokoh Pemuda Kao )
Jika hari ini kita ditanya, di tengah krisis keteladanan pemimpin, sosok seperti apa yang sebenarnya kita butuhkan di Halmahera Utara ? Jawabannya tidak perlu dicari jauh-jauh. Jawabannya ada pada satu nama: Aksandri Kitong.
Bukan karena ia tanpa cela. Tetapi karena di saat banyak pemimpin sibuk membangun jarak dengan rakyatnya, Aksandri justru memilih meruntuhkan sekat itu.
Sederhana, Karena Ia Lahir dari Rakyat
Aksandri Kitong bukan pemimpin yang lahir dari menara gading. Kesederhanaannya bukan pencitraan. Ia tidak canggung duduk di tikar, makan bersama warga, mendengar keluh kesah mama-mama di pasar, dan berjalan kaki di jalan berlumpur yang bertahun-tahun tidak disentuh.
Kesederhanaan itu adalah warisan. Ia adalah putra dari Bapak AIS Kitong, seorang wakil rakyat dan Ketua Partai yang namanya sudah lekat di hati masyarakat Halut. DNA peduli itu mengalir kuat. Jika sang ayah berjuang dari parlemen, Aksandri melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang lebih membumi: hadir, melihat, dan bertindak.
Pemimpin Masa Kini, Bukan Masa Lalu
Kita butuh pemimpin yang responsif, bukan yang menunggu laporan di atas meja. Aksandri Kitong adalah representasi pemimpin masa kini.
Saat jalan penghubung Desa Toboulamo dan Desa Takimo di Kao Barat putus dan menyulitkan aktivitas warga selama bertahun-tahun, ia tidak menunggu anggaran turun. Ia menggunakan dana pribadinya untuk memperbaik jalan dan jembatan itu. Ini bukan cerita lama, ini fakta yang disaksikan rakyat Kao Barat pada Juli 2025 lalu.
Saat jalur vital Galela-Loloda yang menjadi nadi perekonomian di wilayah terisolasi terancam terlupakan, ia sebagai Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara dari Komisi II, mengawal agar masuk menjadi prioritas APBD 2026. Ia paham, tanpa jalan, tidak ada pendidikan, tidak ada kesehatan, tidak ada ekonomi.
Itulah pemimpin masa kini: Pekerja keras, Responsif, dan Aktif melakukan kunjungan ke rakyatnya. Tidak hanya saat ada pemilihan, tapi saat rakyatnya membutuhkan.
Tidak Membatasi Diri, Terbuka untuk Semua Golongan
Inilah yang paling membekas dari sosok Aksandri. Ia tidak membatasi diri.
Ia adalah Ketua GAMKI Halmahera Utara dan Kader Partai Demokrat, tapi kepeduliannya melampaui sekat partai dan agama. Ketika ada warga Desa Birinoa yang terdampak bencana, ia hadir menyalurkan bantuan. Ketika ada polemik di Tobelo, ia dengan kerendahan hati menemui para Imam Masjid, tokoh-tokoh Muslim, pemuda Muslim, untuk menjaga kerukunan. Ia meminta maaf jika ada kekhilafan dan mendeklarasikan damai.
Pemimpin seperti ini yang kita butuh. Yang berani merangkul, bukan memukul. Yang berani meminta maaf, bukan merasa paling benar. Ia paham, Kao, Tobelo, Galela, Malifut adalah satu keluarga besar.
Dia juga tegas. Ketika tenaga medis di RSUD Tobelo mengeluh karena tunggakan gaji, ia yang pertama bersuara mendesak Bupati untuk berbenah. Karena baginya, melayani dengan segenap hati berarti membela yang lemah, bahkan jika harus berhadapan dengan kekuasaan.
Representasi Kaum Muda yang Patut Dicontohi
Aksandri Kitong adalah jawaban atas keraguan banyak orang terhadap anak muda. Dulu ia adalah seorang ASN. Sebuah posisi aman dan nyaman. Tapi ia memilih mundur pada tahun 2023 untuk mengabdi lebih luas sebagai Caleg DPRD Provinsi Maluku Utara Dapil Halut-Morotai.
Keputusan itu adalah pertaruhan. Ia mempertaruhkan kenyamanan pribadinya demi perjuangan kolektif tentang Dana Bagi Hasil dan pembangunan infrastruktur Halmahera Utara.
Hari ini, pengorbanan itu terbayar. Ia hadir sebagai representasi kaum muda yang tidak hanya banyak bicara di media sosial, tapi bekerja nyata di lapangan. Ia hadir saat warganya membutuhkan, tanpa diminta, tanpa diundang.
Maka, jika ditanya KENAPA HARUS AKSANDRI KITONG?
Karena kita tidak butuh pemimpin yang hanya datang saat ada panggung. Kita butuh pemimpin yang datang saat ada lumpur, ada air mata, dan ada harapan yang hampir padam.
Karena kita butuh pemimpin yang mewarisi nilai perjuangan ayahnya, tapi berjalan dengan caranya sendiri yang lebih dekat dan lebih relevan dengan zaman.
Aksandri Kitong adalah bukti bahwa kepemimpinan yang sederhana, melayani dengan hati, dan terbuka untuk semua orang, masih ada dan hidup di tanah kita.
Semoga Kaka Aksandri Kitong sehat selalu, diberikan kekuatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk rakyat Halmahera Utara dan Maluku Utara.
Hidup Pemuda!
Hidup Rakyat Dapil Halut-Morotai !.. SEMUA ORANG
Oleh: Hard Pangendahen ( Sekretaris Lembaga Adat Suku Boeng & Tokoh Pemuda Kao )
Jika hari ini kita ditanya, di tengah krisis keteladanan pemimpin, sosok seperti apa yang sebenarnya kita butuhkan di Halmahera Utara ? Jawabannya tidak perlu dicari jauh-jauh. Jawabannya ada pada satu nama: Aksandri Kitong.
Bukan karena ia tanpa cela. Tetapi karena di saat banyak pemimpin sibuk membangun jarak dengan rakyatnya, Aksandri justru memilih meruntuhkan sekat itu.
Sederhana, Karena Ia Lahir dari Rakyat
Aksandri Kitong bukan pemimpin yang lahir dari menara gading. Kesederhanaannya bukan pencitraan. Ia tidak canggung duduk di tikar, makan bersama warga, mendengar keluh kesah mama-mama di pasar, dan berjalan kaki di jalan berlumpur yang bertahun-tahun tidak disentuh.
Kesederhanaan itu adalah warisan. Ia adalah putra dari Bapak AIS Kitong, seorang wakil rakyat dan Ketua Partai yang namanya sudah lekat di hati masyarakat Halut. DNA peduli itu mengalir kuat. Jika sang ayah berjuang dari parlemen, Aksandri melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang lebih membumi: hadir, melihat, dan bertindak.
Pemimpin Masa Kini, Bukan Masa Lalu
Kita butuh pemimpin yang responsif, bukan yang menunggu laporan di atas meja. Aksandri Kitong adalah representasi pemimpin masa kini.
Saat jalan penghubung Desa Toboulamo dan Desa Takimo di Kao Barat putus dan menyulitkan aktivitas warga selama bertahun-tahun, ia tidak menunggu anggaran turun. Ia menggunakan dana pribadinya untuk memperbaik jalan dan jembatan itu. Ini bukan cerita lama, ini fakta yang disaksikan rakyat Kao Barat pada Juli 2025 lalu.
Saat jalur vital Galela-Loloda yang menjadi nadi perekonomian di wilayah terisolasi terancam terlupakan, ia sebagai Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara dari Komisi II, mengawal agar masuk menjadi prioritas APBD 2026. Ia paham, tanpa jalan, tidak ada pendidikan, tidak ada kesehatan, tidak ada ekonomi.
Itulah pemimpin masa kini: Pekerja keras, Responsif, dan Aktif melakukan kunjungan ke rakyatnya. Tidak hanya saat ada pemilihan, tapi saat rakyatnya membutuhkan.
Tidak Membatasi Diri, Terbuka untuk Semua Golongan
Inilah yang paling membekas dari sosok Aksandri. Ia tidak membatasi diri.
Ia adalah Ketua GAMKI Halmahera Utara dan Kader Partai Demokrat, tapi kepeduliannya melampaui sekat partai dan agama. Ketika ada warga Desa Birinoa yang terdampak bencana, ia hadir menyalurkan bantuan. Ketika ada polemik di Tobelo, ia dengan kerendahan hati menemui para Imam Masjid, tokoh-tokoh Muslim, pemuda Muslim, untuk menjaga kerukunan. Ia meminta maaf jika ada kekhilafan dan mendeklarasikan damai.
Pemimpin seperti ini yang kita butuh. Yang berani merangkul, bukan memukul. Yang berani meminta maaf, bukan merasa paling benar. Ia paham, Kao, Tobelo, Galela, Malifut adalah satu keluarga besar.
Dia juga tegas. Ketika tenaga medis di RSUD Tobelo mengeluh karena tunggakan gaji, ia yang pertama bersuara mendesak Bupati untuk berbenah. Karena baginya, melayani dengan segenap hati berarti membela yang lemah, bahkan jika harus berhadapan dengan kekuasaan.
Representasi Kaum Muda yang Patut Dicontohi
Aksandri Kitong adalah jawaban atas keraguan banyak orang terhadap anak muda. Dulu ia adalah seorang ASN. Sebuah posisi aman dan nyaman. Tapi ia memilih mundur pada tahun 2023 untuk mengabdi lebih luas sebagai Caleg DPRD Provinsi Maluku Utara Dapil Halut-Morotai.
Keputusan itu adalah pertaruhan. Ia mempertaruhkan kenyamanan pribadinya demi perjuangan kolektif tentang Dana Bagi Hasil dan pembangunan infrastruktur Halmahera Utara.
Hari ini, pengorbanan itu terbayar. Ia hadir sebagai representasi kaum muda yang tidak hanya banyak bicara di media sosial, tapi bekerja nyata di lapangan. Ia hadir saat warganya membutuhkan, tanpa diminta, tanpa diundang.
Maka, jika ditanya KENAPA HARUS AKSANDRI KITONG?
Karena kita tidak butuh pemimpin yang hanya datang saat ada panggung. Kita butuh pemimpin yang datang saat ada lumpur, ada air mata, dan ada harapan yang hampir padam.
Karena kita butuh pemimpin yang mewarisi nilai perjuangan ayahnya, tapi berjalan dengan caranya sendiri yang lebih dekat dan lebih relevan dengan zaman.
Aksandri Kitong adalah bukti bahwa kepemimpinan yang sederhana, melayani dengan hati, dan terbuka untuk semua orang, masih ada dan hidup di tanah kita.
Semoga Kaka Aksandri Kitong sehat selalu, diberikan kekuatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk rakyat Halmahera Utara dan Maluku Utara.
Hidup Pemuda!
Hidup Rakyat Dapil Halut-Morotai !.. SEMUA ORANG








