Tiga influencer asal Maluku Utara, Angga Dermawan, Rahman yang dikenal dengan nama Tete Ko, dan Riski Saimima, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat adat dan pihak-pihak yang merasa tersinggung atas video yang sebelumnya beredar di media sosial.
Permintaan maaf tersebut disampaikan melalui unggahan video di akun TikTok Angga Dermawan setelah konten yang menampilkan unsur tarian dan musik tradisional daerah menuai kritik dari sejumlah kalangan, termasuk pegiat budaya dan komunitas adat di Maluku Utara.
Dalam video klarifikasi tersebut, Angga Dermawan dan kedua rekannya menyatakan bahwa mereka tidak memiliki niat untuk merendahkan, melecehkan, maupun menyinggung nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tarian tradisional yang digunakan dalam konten tersebut.
”Kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada perwakilan adat maupun masyarakat yang merasa tersinggung. Kami tidak ada niat untuk merendahkan atau melecehkan tarian maupun musik yang terkait dengan adat,” kata ketiga influencer dalam video yang diunggah di akun TikTok milik Angga. Selasa (23/6/2026).
Menurut mereka, polemik yang muncul akibat video tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan konten.
Ketiganya mengaku menerima kritik, masukan, dan teguran yang disampaikan masyarakat sebagai bentuk pengingat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial, terutama ketika mengangkat unsur budaya dan tradisi daerah.
Dikesempatan itu, Rahman mengatakan dirinya bersama rekan-rekannya menyadari pentingnya memahami nilai-nilai budaya sebelum menampilkannya ke ruang publik.
”Kami sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang diberikan. Ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk lebih menghormati adat istiadat dan belajar lebih banyak tentang kekayaan budaya yang ada di daerah kami,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, mereka juga menegaskan bahwa video tersebut tidak dibuat untuk memperoleh keuntungan ataupun memanfaatkan budaya sebagai sarana mencari popularitas.
Menurut Riski, tujuan awal pembuatan konten hanya untuk menghibur pengguna media sosial. Namun mereka menyadari bahwa dampak yang ditimbulkan ternyata memunculkan ketersinggungan di sebagian masyarakat.
”Kami sadar apa yang kami lakukan berdampak tidak baik bagi pihak tertentu. Karena itu kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dan menyesali apa yang telah terjadi,” katanya.
Sebelumnya, video yang menampilkan unsur tarian tradisional Maluku Utara itu mendapat sorotan dari sejumlah pegiat budaya. Mereka menilai penggunaan simbol budaya dalam konten digital perlu dilakukan dengan pemahaman dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang melekat pada tradisi tersebut.
Permohonan maaf dari para influencer itu menjadi respons atas kritik yang berkembang di ruang publik sekaligus upaya meredakan polemik yang muncul di media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Terancam Dipolisikan, Sejumlah Influencer Maluku Utara Minta Maaf atas Dugaan Lecehkan Tarian Adat













